Berita

Menu ini memuat perkembangan kabar dan informasi terkini tentang Perpustakaan Badan Standardisasi Nasional, ditulis untuk disampaikan kepada para pengunjung dan masyarakat umum

Banyak yang Sebar Konten Negatif Karena Tidak Paham...

Oleh Muhammad Bahrudin —

"Enggak usah takut dengan konten negatif. Kan rujukannya UU ITE saja. Semua di republik ini bebas mengunggah konten kecuali yang dilarang di UU ITE," ucap Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

Ini diungkapkannya dalam acara diskusi santai di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Barat, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Rudiantara mengakui jika perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat penyebaran informasi semakin tak terbendung. Termasuk maraknya konten negatif dan hoax.

Namun, ia meyakini bahwa hal itu terjadi karena literasi digital yang masih kurang.

Menurutnya, ada orang-orang yang memang memiliki kecenderungan senang menyebar konten negatif di dunia maya.

"Tapi itu enggak usah dipusing-pusingin juga. Saya selalu punya keyakinan bahwa banyak yang melakukan upload (konten) yang dianggap negatif tapi sebetulnya tidak tahu."

Program literasi menjadi perhatian khusus pemerintah, khususnya Kominfo. Bahkan, anggaran tersebut adalah yang terbesar di Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo.

Ia pun menyinggung peran penting masyarakat untuk bersama-sama membangun literasi digital secara merata, terutama komunitas.

"Saya paling senang kerja sama dengan komunitas. Karena mereka bisa menjangkau yang pemerintah tidak bisa masuk ke sana," tuturnya.

Rudiantara mengatakan pihaknya selalu terbuka, termasuk menerima masukan jika ada komunitas-komunitas yang ingin membuat kegiatan kerja sama terkait literasi digital.

Kerja sama dengan komunitas juga terbuka tak hanya untuk yang berada di Jakarta dan sekitarnya tapi juga di daerah-daerah lain di Indonesia.

Secara khusus, literasi digital lewat konten menurutnya juga amat diperlukan. Misalnya melalui komunitas blogger, dapat mengajak warganet untuk membuat konten-konten yang baik di dunia maya.

Tujuannya, hal yang diunggah tak menabrak undang-undang yang berlaku.

Di samping komunitas, peran keluarga dan sekolah juga dinilai besar untuk literasi digital.

"Itu tugas kita bersama. Pemerintah, civil society organization, NGO,masyarakat, orang tua, (untuk) senantiasa mengedukasi ke orang yang paling terdekat," kata pria kelahiran Bogor 3 Mei 1959 itu.


Sumber: http://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/30/213023320/banyak-yang-sebar-konten-negatif-karena-tidak-paham.