Berita

Menu ini memuat perkembangan kabar dan informasi terkini tentang Perpustakaan Badan Standardisasi Nasional, ditulis untuk disampaikan kepada para pengunjung dan masyarakat umum

Ruang Kerja Berkonsep "Hijau" Bikin Karyawan Lebih Sehat

Oleh Muhammad Bahrudin —

Ilustrasi. | Sumber: bigbitecreative.com

Mayoritas pekerja saat ini menghabiskan waktunya bekerja di dalam ruangan. Padahal, terlalu banyak berada di ruangan kantor memiliki dampak negatif bagi kesehatan.

Terlalu lama berada dalam ruangan tertutup seperti kubikel perkantoran, yang menghalangi pemandangan luar ruangan, diketahui dapat meningkatkan kadar hormon stres. Sementara itu, ventilasi yang buruk yang banyak ditemui di banyak gedung, juga meningkatkan karbon dioksida yang berpotensi mengurangi kemampuan otak dan berpengaruh terhadap mood.

Psikolog Lingkungan Judith Heerwagen mengatakan, dampak-dampak tersebut bisa terjadi karena desain perkantoran yang mengabaikan unsur alam.

"Banyak kreativitas dan waktu diberikan untuk mendesain habitat alam bagi para satwa. Tapi tidak untuk menciptakan tempat-tempat kerja yang nyaman untuk manusia," kata Heerwagen yang banyak mempelajari tempat kerja di Amerika .

Kondisi tersebut perlahan berubah seiring dengan meningkatnya kesadaran ruang kerja yang sehat.

Heerwagen yang kini bekerja untuk General Services Administration di Washington, banyak terlibat membantu perencanaan pembangunan gedung yang menyertakan atap dan atrium hijau. Termasuk juga kantor yang disertai pemandangan outdoor yang luas.

Desain ini juga memungkinkan para pegawai berjalan-jalan dan berinteraksi dengan pegawai lainnya. Aktivitas itu bisa menjadi olahraga sederhana di sela rutinitas duduk di meja kerja.

Arsitek ternama sekaligus Co-Founder CookFox, Richard Cook menyampaikan, arsitektur dengan suasana alam juga berdampak pada kesehatan pegawai. Selain performa kerja yang lebih baik, mereka juga jadi lebih jarang absen karena sakit.

Kajian ilmiah dari konsep gedung perkantoran hijau terus berlanjut. Penelitian dari sebuah tim internasional pada 2014 menunjukkan bahwa mereka yang bekerja di gedung dengan tanaman-tanaman hijau memiliki tingkat konsentrasi yang lebih baik dan 15 persen lebih produktif.

Sementara itu, studi tentang rumah sakit dari Pakar Arsitektur Roger Ulrich menemukan bahwa pasien rumah sakit yang melihat pemandangan alam dari luar jendela cenderung merasakan lebih sedikit sakit dari terapi medis yang dilakukan. Mereka juga cenderung lebih cepat keluar dari rumah sakit ketimbang pasien yang pemandangannya hanya dinding rumah sakit.

Studi lainnya dilakukan terhadap 21.000 siswa sekolah dasar di bagian barat Amerika, dilakukan oleh firma konsultan energi, The Heschong Mahone Group. Studi menemukan bahwa anak-anak yang belajar dalam ruang kelas dengan desain alam memiliki nilai 20 persen lebih tinggi saat tes.

Direktur The Lighting Research Center Rensselaer Polytechnic Institute, Mariana Figueiro mengatakan, penerangan yang baik juga menjaga para pekerja kantoran tetap terjaga dan sehat.

Ilustrasi | Sumber: ideadate.space

Banyak gedung perkantoran dinilainya seperti goa penuh cahaya dengan lampu-lampu yang menyinari dari atas. Figueiro menuturkan, cahaya alami dari luar ruangan, seperti jendela, juga diperlukan untuk menjaga siklus harian tubuh (circadian system).

Orang-orang yang kurang mendapat sinar matahari cenderung lesu pada waktu kerja dan mengalami masalah tidur pada malam hari.

Gangguan jam biologis tubuh diketahui bisa menyebabkan penyakit seperti depresi. Untuk jangka panjang, bisa meningkatkan risiko penyakit jantung hingga kanker payudara.

Figueiro mengatakan, penerangan dengan cahaya alami adalah yang terbaik. Tapi, jika tak tersedia, bisa menggunakan pencahayaan buatan. Beberapa sistem penerangan saat ini bisa diprogram untuk menirukan siklus alami, dengan penyesuaian warna pencahayaan dan intensitasnya.

Founder program The Healthy Buildings di Center for Health and The Global Environment Harvard, Allen menuturkan bahwa sirkulasi udara segar juga sama pentingnya. Menurutnya, setidaknya terdapat 90 persen gedung perkantoran yang memiliki tidak cukup ventilasi.

Dalam sebuah studi yang dilakukan Allen, terungkap mereka yang bekerja pada gedung dengan ventilasi memadai, dua kali lebih baik dalam tes performa kognitif dan pengambilan keputusan ketimbang mereka yang bekerja pada gedung dengan ventilasi buruk.

"Seperti dalam ruangan konferensi, orang-orang cenderung lelah dan terdistraksi. Akan lebih baik jika ada udara segar masuk," ujarnya.

Berdasarkan studi yang dilakukannya, karbon dioksida yang muncul dari dalam ruangan bisa mengganggu fungsi otak, meskipun studi tersebut masih akan dilanjutkan.

The CookFox Architectural Studio, misalnya, memiliki monitor udara di kantornya dan udara segar diembuskan ke dalam ruang kerja saat tingkat karbon dioksida dan polutan sudah terlalu tinggi. Solusi lain seperti membuka jendela ruangan juga bisa membantu.

Sejumlah upaya juga tengah dibangun untuk mencari tahu dampak dari desain perkantoran tersebut. Allen dan koleganya menggunakan sistem virtual reality untuk mengecek variasi detak jantung para pegawai  dan tingkat stres dari mereka.

Upaya tersebut juga dilakukan para penelity dari Cloud Lab Colombia University bersama firma konsultan Terrapin Bright Green, untuk meneliti para pegawai dengan mesin Electroencephalography (EEG). Ini untuk memonitor dampak desain hijau tersebut secara neurologis terhadap sejumlah pengunjung hotel.

"Kita menginginkan gedung-gedung yang lebih sehat. Keuntungan bagi kesehatan dan pengurangan energi harus bisa berjalan beriringan," ujar Cook.


Sumber: http://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/15/173700720/ruang-kerja-berkonsep-hijau-bikin-karyawan-lebih-sehat.