Berita

Menu ini memuat perkembangan kabar dan informasi terkini tentang Perpustakaan Badan Standardisasi Nasional, ditulis untuk disampaikan kepada para pengunjung dan masyarakat umum

Penerapan Manajemen Pengetahuan Berbasis Permenpan-RB Nomor 11 Tahun 2014 dan ISO 30401:2018

Oleh Muhammad Bahrudin —

Manajemen pengetahuan adalah salah satu isu menarik dalam konteks manajemen sumber daya manusia organisasi maupun kajian kepustakawanan. Dalam konteks daya saing organisasi, agar tetap bertahan maka organisasi harus secara efisien dan efektif menciptakan, melokasikan dan menangkap serta membagi pengetahuan dan keahliannya untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam penyelesaian masalah dan/atau mencapai tujuan organisasi. Organisasi harus dapat memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk membangun strategi. 

Dalam rangka Bulan Mutu Nasional tahun 2018, Perpustakaan BSN menyelenggarakan "Knowledge Sharing dan Diskusi Penerapan Manajemen Pengetahuan Berbasis Permenpan-RB Nomor 14 Tahun 2011 dan ISO 30401:2018" pada tanggal 14 November 2018. Acara yang bertempat di Ruang Komisi 3 Gedung 2 BPPT Jakarta ini, menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya.

Sebagai informasi bahwa Permenpan-RB Nomor 14 Tahun 2011 adalah pedoman pelaksanaan manajemen pengetahuan yang ditetapkan oleh Kementerian PAN-RB dan merupakan turunan dari Perpres Nomor 81 tahun 2010 tentang Grand Desain Reformasi Birokrasi 2010-2025. Sedangkan ISO 30401:2018 adalah standar yang baru ditetapkan oleh ISO (International Organization for Standarddization) yang dapat menjadi alternatif kerangka kerja pelaksanaan manajemen pengetahuan bagi organisasi.

Sebelumnya, acara ini dibuka secara resmi oleh Deputi Bidang Informasi dan Pemasyarakatan Informasi, Dr. Dra. Zakiyah, M.M. Dalam paparannya, beliau mengutarakan,"Pada dasarnya pengetahuan dihasilkan oleh setiap individu. Individu-individu yang telah terlibat dalam proses bisnis suatu organisasi, memiliki pengetahuan baik bersifat tacit maupun eksplisit yang spesifik terkait tugas dan fungsinya. Maka dari itu, pengetahuan-pengetahuan yang tersebar di berbagai individu inilah yang perlu dikelola oleh suatu organisasi. Proses pengelolaan inilah yang menurut saya disebut sebagai manajemen pengetahuan."

Narasumber pertama ialah Y. Kristianto Widiwardono, selaku Kepala Pusat Informasi dan Dokumentasi Standardisasi - BSN. Kristianto mengenalkan standar baru di bidang manajemen pengetahuan dengan materinya "Overview ISO 30401:2018, Knowledge management systems - Requirements". 

"Sebagai pengantar paparan tentang ISO 30401, standar ini dirumuskan oleh suatu technical committee di ISO yaitu ISO/TC 260 Human resource management. ISO TC ini memang memiliki tugas merumuskan standar-standar terkait dengan manajemen sumber daya manusia, salah satunya ISO 30401. Jadi, jika melihat konteks ISO/TC ini, maka manajemen pengetahuan menjadi ruang lingkup bagi unit manajemen sumber daya manusia organisasi", papar Kristianto.

"Pentingnya manajemen pengetahuan menurut ISO 30401 diantaranya ialah bahwa hasil pekerjaan organisasi berasal dari pengetahuan yang diterapkan, tumbuhnya knowledge economies, pengembangan SDM yang profesional, perlunya berbagi pengetahuan lintas bagian dalam organisasi serta mengantisipasi risiko pergantian pegawai", lanjut Kristianto.

Narasumber kedua adalah pakar manajemen pengetahuan di BATAN yang disebut NKM (Nuclear Knowledge Management), Budi Prasetyo. Beliau juga menjabat sebagai Kepala Bidang Sistem Informasi Manajemen Informasi Nuklir yang membawakan materi "Penerapan Manajemen Pengetahuan di BATAN"

"Pengetahuan merupakan aset yang penting bagi institusi, pengetahuan kebanyakan berada di SDM (people) organisasi dalam bentuk tacit knowledge. Implementasi manajemen pengetahuan membutuhan 4 dimensi, yaitu kebijakan, people, process dan teknologi", ungkap Budi.

"Dalam kebijakan NKM BATAN menyatakan bahwa pengelolaan pengetahuan nuklir merupakan hal penting dan wajib diterapkan pada seluruh kegiatan penelitian, pengembangan, perekayasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir serta proses administrasi dan layanan terkait di seluruh unit kerja. BATAN menerapkan pengelolaan pengetahuan nuklir secara sistematis, konsisten dan berkelanjutan."

Ketika ditanya terkait keterkaitan atau peran perpustakaan dan pustakawan dalam manajemen pengetahuan, Budi menjelaskan bahwa saat ini perpustakaan dan pustakawan harus berubah. Perpustakaan, dalam hal ini di instansi pemerintah harus dapat menjadi referensi utama dalam menyediakan pengetahuan organisasi, menjadi tempat berbagi pengetahuan dan menyediakan sarana berbagi pengetahuan. Pustakawan juga harus berubah untuk dapat berperan sebagai knowledge bridger atau jembatan pengetahuan yang dapat menghubungkan antar pemilik pengetahuan, pengetahuan yang dihasilkan dan dikelola dan SDM di organisasi yang membutuhkan informasi seputar pengetahuan yang spesifik. Dengan begitu akan terjalin sinergi yang positif antara manajemen pengetahuan, perpustakaan dan pustakawan serta unit yang menangani manajemen sumber daya manusia.

Diskusi yang dimoderatori oleh Kepala Biro Hukum, Organisasi dan Humas - BSN, Iryana Margahayu, ini diakhiri dengan harapan bahwa penerapan manajemen pengetahuan dapat menjadi salah satu indikator yang menunjukkan daya saing organisasi serta menunjukkan kesinambungan manajemen sumber daya manusia dalam suatu organisasi. Berbagai tools yang dapat dimanfaatkan dalam penerapan manajemen pengetahuan pada akhirnya akan kembali pada komitmen organisasi pada kesungguhan dan sumber daya yang disediakan untuk optimalisasi manajemen pengetahuan di lingkungannya. (Amb/Pusido)


Materi Knowledge Sharing dan Diskusi:

  1. Overview ISO 30401:2018, Knowledge management system - Requirements (Y. Kristianto Widiwardono)
  2. Penerapan manajemen pengetahuan di BATAN (Budi Prasetyo)